Berkuasa lebih nikmat daripada sex

Musimnya ganti pejabat, sepeti ini, di Organisasi ini, menimbulkan cerita sendiri buat saya. Mungkin hanya di Organisasi ini, bukan di Organisasi Anda. Sunami kasak kusuk nya mulai terasa diseantero ruang dan sisi ketika menjelang “Hari H”, menembus akal sehat dan konsentrasi, mudah menjalar kemana-mana dan tak jarang akan mengganggu orang disekitarnya. Dan ketika” hari H” itu tiba, efek – kebakaran jenggotnya- dapat berujung kecewa, dan itu sangat mudah diprediksi.

Di Organisasi ini, setahu saya, jabatan adalah hanya untuk kelompok tertentu. Persyaratan untuk mendudukinya lebih banyak bukan karena prestasi, tapi lebih dari senioritas, pertemanan dan almamater. Mudah-mudahan tidak sama dengan di Organisasi Anda.

Ketika rezim berubah, persyaratan seseorang dapat menduduki jabatan juga ikut berubah, tapi tetap bukan karena prestasi. Dan itu membuat para tetua disini kebakaran jenggot. Kenapa harus kebakaran jenggot?. Bukankah selama ini sebagian golongan menguntungkan golongannya sendiri dan merugikan golongan lainnya? Mestinya ketika golongan yang selama ini diuntungkan, kali ini merasa dirugikan, maka idealnya mereka harus bersikap legawa. Tapi kenyataannya tidak begitu dan tidak semudah itu.

Mengapa mesti berkuasa atau memiliki jabatan? mengapa berkuasa atau menduduki jabatan itu begitu menggoda? Untuk Gengsi? Mungkin itu alasan yang paling cepat terucap, jika tidak mau dikatakan untuk sesumbar atau sesombong. Dari jabatan paling rendah – Mandor, hingga jabatan paling tinggi-Presiden, pun semua mempunyai daya tarik dan janji keuntungan tersendiri yang menggoda. Bayangkan jika Anda seorang presiden, apa saja Anda bisa dapatkan. Dari semir sepatu gratis, kebebasan dari macet dan usilnya infotainment hingga sex kelas atas gratis akan Anda dapatkan dengan mudah. Begitulah teman sebelah meja saya men-fatwa-kan bahwa berkuasa itu lebih nikmat daripada sex.

Padahal jabatan itu adalah amanah yang mesti dipertanggungjawabkan dunia dan akhirat. Sungguh tidak satu hal sekecil apapun terjadi akibat jabatan yang kita duduki, melainkan akan dipertanggungjawabkan kelak. Pada titik ini Saya harus mengatakan kepada orang yang gila berkuasa atau gila jabatan bahwa Anda termasuk manusia yang sangat bodoh.

 

 

This entry was posted by admin on Sunday, January 15th, 2012 at 1:25 am and is filed under persepsi . You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0 feed. You can leave a response, or trackback from your own site.

Leave a Reply