Data dan Hilangnya satu Kementerian

Pada suatu waktu, ketika awal-awal kementerian kehutanan dan kementerian lingkungan hidup disatukan menjadi kementerian lingkungan hidup dan kehutanan, seorang dosen master bertanya kepada mahasiswa kelas malamnya ”mengapa kementerian ini digabung?” Sang anak-anak didiknya, yang notabenenya banyak bekerja di salah satu kementerian bersangkutan menjawab “tidak tahu”. Dan jawaban itulah yang umum keluar dari setiap orang, ketika ditanya hal yang sama, terutama orang yang ditanya adalah yang berkepentingan atau berkaitan dengan kedua kementerian tersebut.

Mengapa kementerian ini digabung? Mengapa namanya-yang bagi sebagian orang- tidak mencerminkan dan sesuai dengan besarnya fungsi salah satu kementerianya? Anda sah-sah saja menjawab asal-asalan karena mungkin Anda tidak terkait langsung dengan subyek atau obyek pertanyaan. Seperti kedengaran asal-asalanya seorang pejabat setingkat esselon dua di tempat saya bekerja memberikan jawabanya, “anggap saja mereka salah ketik”.

Rasanya sulit untuk percaya jika mereka, tim penyusun kabinet periode ini (2014-2019), dalam hal ini tim transisi, yang diketuai oleh Sdri Rini Soemarno, asal-asalan melakukan pengabungan kementerian ini. Mereka pasti punya setidaknya satu landasan atas kebijakan yang dibuat. Karena mereka yang ada disana bukan “orang-orang sembarangan”. Masalahnya bisakah kita, atau Anda setidaknya menebak dasar apa dibalik itu? Sekali lagi silakan berspekulasi. Saya punya satu teori tentang hal ini, bukan berkaitan dengan sang presiden, bukan juga tendensius, yaitu masalah “data”.

Data menggambarkan sebuah representasi fakta yang tersusun secara terstruktur. Selain deskripsi dari sebuah fakta, data dapat pula merepresentasikan suatu objek dan kejadian (Wawan dan Munir, 2006). Dan data jika diolah akan menghasilkan suatu informasi yang sangat berguna dan penting, seperti yang dikatakan oleh Wawan dan Munir selanjutnya,  bahwa “Informasi merupakan hasil dari pengolahan data dalam suatu bentuk yang menggambarkan suatu kejadian-kejadian (event) yang nyata (fact) dengan lebih berguna dan lebih berarti. 

Data dan informasi seringkali dijadikan dasar oleh seseorang dalam membuat keputusan. Apalagi dalam membuat keputusan penting, dengan keterbatasan pengetahuan si pembuat keputusan terhadap persoalan yang sedang dihadapi, data dan informasi menjadi hal yang paling membantu sebagai senjata pamungkas.

Bukannya Saya tidak punya dasar atas argumen tentang masalah data ini. Setidaknya ada beberapa mahasiswa Master dan Doctor yang saya kenal, pernah mengeluhkan betapa terbatasnya data yang ada di salah satu kementerian ini. Dan betapa masih segarnya di ingatan saya, ketika beberapa tahun lalu, terkait kebijakan moratorium ekspor rotan, apakah akan dilanjutkan atau dihentikan, membutuhkan data untuk mendukung kebijakannya, kementerian ini tidak berdaya untuk menyediakannya. Mengapa masalah data ini dianggap belum begitu penting?

Jadi apakah Anda setuju dengan kesimpulan, bahwa boleh jadi ketika mereka (pembuat kebijakan penggabungan kementerian ini) tidak menemukan data dan informasi untuk mengetahui betapa pentingnya eksistensi kementerian ini, lalu mereka jadi “salah” dalam membuat kebijakan?.

Dan pertanyaan terakhirnya, siapakah yang disalahkan?

 

Data pendukung:

Wawan. dan Munir. (2006). Pengantar Teknologi Informasi: Sistem Informasi. Bandung: Universitas Pendidikan Indonesia.

 

 

This entry was posted by admin on Monday, December 15th, 2014 at 4:32 pm and is filed under persepsi . You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0 feed. You can leave a response, or trackback from your own site.

Leave a Reply

infopaytren.com
Categories