FILOSOFI HIDUNG KOTOR

Ketika mandi, anda, saya atau siapapun akan mungkin melakukan ritual yang hampir sama. Dimulai dari membilas badan, menggosok gigi, hingga mengeringkan dengan handuk. Bagi saya, pembersihan hidung adalah termasuk ritual yang dilakukan hampir setiap saya mandi. Hingga suatu ketika, suatu sore saya menemukan filosofi hidung kotor.

Ketika mandi, ritual awal saya adalah membersihan hidung hingga terasa bersih sebersihnya, paling tidak saya meyakini semua kotoran yang ada dihidung saya sudah hilang. Setelah selesai mandi, ditutup dengan wudhu, dimana saya kembali melakukan pembesihan hidung seperti yang disyaratkan dalam rangkaian wudhu. Apa yang terjadi, saya merasa hidung saya masih saja kotor. Kenapa bisa begitu? Padahal tadi sebelum mandi saya sudah membersihkannya. Saya kembali membersihkannya sebersih-bersihnya, kali ini keyakinan saya bertambah, bahwa hidung saya benar-benar sudah bersih.

Dalam satu kali mandi saya membersihkan hidung dua kali. Di awal dan diakhir mandi. Mengapa pembersihan pertama kurang bersih, walaupun saya meyakini itu sudah bersih. Saya mencoba mencari jawabannya. Ternyata permbersihan hidung yang pertama dilakukan ketika jari-jari tangan saya dalam keadaan tidak bersih, sehingga standar kebersihannya adalah kebersihan tangan saya sebelum mandi. Ketika selesai mandi jari tangan saya sudah lebih bersih dari sebelumnya, sehingga ketika melakukan pembersihan untuk kedua kalinya, pembersihan pertama terasa belum bersih. Intinya Standar kebersihan yang digunakan oleh alat pembersihnya berbeda dari pembersihan pertama dan terakhir, sehingga hasil akhirnyapun akan beda dan terasa beda.

Coba dihubungkan filosofi pembersihan hidung kotor ini dengan pembersihan hal-hal kotor lainnya, seperti pembersihan (pemberantasan) koruptor atau pendosa lainnya. Sampai kiamat juga mungkin tidak akan bisa, karena yang melakukan pembersihan (pemberantasan) memiliki standar kebersihan yang rendah.  Kalau seandainya alat pembersihnya (orang-orangnya) itu bersih, barangkali yang dibersihkan juga akan menjadi bersih.

This entry was posted by admin on Wednesday, December 8th, 2010 at 1:49 pm and is filed under persepsi . You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0 feed. You can leave a response, or trackback from your own site.

One Comment

  1. thanks ya atas artikelnya salam kenal

Leave a Reply