Filosofi Telur Ayam (buka mata buka telinga)

 

Pengajaran tidak mengenal tempat dan waktu. Ada disemua tempat dan disembarang waktu. Hanya dibutuhkan sedikit tempat yang tepat dan sedikit waktu yang tepat pula untuk menangkapnya. Kadang itu didapat ditempat yang mungkin menurut kita tidak layak, dan diwaktu yang mungkin menurut kita tidak tepat. Tapi itulah faktanya.

Pernahkah Anda mendengar kisah telur ayam? Bagaimana ia diproses hingga menjadi anak ayam. Atau taukah Anda berapa lama induk ayam mengeramkan telurnya hingga menetas?

Ternyata telur ayam membutuhkan waktu 21 hari untuk menetas; Dibutuhkan kadar suhu tertentu dan suhu mesti tetap stabil hingga menetas. Jika suhu terlalu lembab, telur akan menjadi busuk, jika suhu terlalu panas, calon anak ayam akan mati; Dibutuhkan kebersihan telur dari bakteri yang mungkin bisa terkontaminasi oleh bakteri yang masuk melalui  pori-pori pada kerabang telur yang menyebabkan  kematian embryo; Dan Dibutuhkan pembuahan oleh pejantan.

Proses penetasan telur ayam ini secara apik dapat diambil filosofinya, Yaitu:

  1. Jika diibaratkan Anda sebuah telur ayam, maka Anda akan menetas menjadi seekor ayam, tidak akan pernah menetas menjadi kadal atau makhluk lainnya. Artinya takdir diri Anda sudah ditentukan untuk menjadi apa Anda.
  2. Untuk menjadi sesuatu yang kita sebut sukses, membutuhkan persyaratan-persyaratan, diantaranya:
  • Waktu, Anda membutuhkan waktu untuk menjadi sukses. Tidak ada sukses dalam semalam. Sama halnya proses penetasan telur ayam membutuhkan waktu sekurang-kurangnya 21 hari. Jadi bersabarlah akan proses yang dijalani untuk menjadi sukses.
  • Dibutuhkan persyaratan-persyaratan tertentu untuk menjadi sukses. Jika telur tadi membutuhkan kestabilan suhu, kebersihan telur dan lain-lainnya, bergitu juga kesuksesan. Banyak syarat-syarat yang harus ditempuh untuk menuju sukses. Artinya kesuksesan tidak datang dengan mudah tanpa melalui persyaratan tersebut.

Begitulah seseorang yang berdiri, memotivasi anggota rapatnya, di suatu siang, di suatu tempat makan, -yang dengan orasinya itu sejenak awalnya terasa mengganggu – membawakan kisah telur ayam ini.

Lihatlah, betapa tempat dan waktu yang  menurut kita tidak layak dan tidak tepat untuk mendapatkan pencerahan, justru kita dapatkan. Tinggal bagaimana kita membuka mata, buka telinga, buka hati dan menangkap sesuatu yang mungkin berguna.

This entry was posted by admin on Wednesday, May 9th, 2012 at 11:07 am and is filed under Kisah . You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0 feed. You can leave a response, or trackback from your own site.

Leave a Reply