Kita Dikumpulkan Bersama Orang Yang Kita Cintai

Jika syarat utama masuk ke dalam surga adalah kualitas dan kuantitas amal, entah berada di tingkat mana kita berada. Bahkan, amat kecil kemungkinan bagi kita yang sedikit dan kurang berkualitas amalnya untuk layak mendapat jatah menghuni tempat penuh kenikmatan itu.

Pasalnya, jika dibandingkan, amalan kita dengan para pendahulu umat ini ibarat setetes air dari jarum di tengah luasnya samudra. Amat tak layak dibandingkan, sebab mereka telah naik ke atas langit ke tujuh, sementara kita justru masih sibuk di lapisan bumi ke tujuh. Menyedihkan!

Kesedihan inilah yang dialami oleh sahabat Anas bin Malik Ra. Sosok yang lama menemani dan menjadi pelayan Nabi ini mengalami kesedihan mendalam sebab mengingat amalan beliau jika dibandingkan dengan Rasulullah Saw, Abu Bakar ash-Shidiq dan Umar bin Khaththab.

Namun, ketika mendengar sebuah hadist amat mulia dari Rasulullah Saw, ia langsung merasa sumringah; bahagia tak terkira. Katanya penuh keyakinan, “Seandainya ada yang mau menukar hadits ini dariku dengan sepenuh bumi berisi emas, aku tak akan memberikannya,”

Hadits apakah yang dimaksud oleh sahabat yang diriwayatkan memiliki 100 lebih keturunan ini? Salim A. Fillah mengutipnya untuk kita dalam Lapis-Lapis Keberkahan, sebagai berikut:

Suatu hari datanglah seseorang kepada Rasulullah Saw. Orang tersebut melempar tanya, “Ya Rasulullah,” katanya memulai, “kapankah Hari Kiamat tiba?” Tak berikan jawaban, Rasulullah Saw justru balik bertanya, “Apa yang sudah kamu siapkan untuk menghadapinya?” Meski merasa tak memiliki apa pun sebagai persiapan, lelaki itu menjawab, “Tidak ada.” Kecuali, lanjutnya, “Bahwa aku mencintai Allah Swt dan Rasul-Nya.”

Mendengar jawaban sang lelaki, Utusan Allah Swt yang palng mulia ini menjawab sebagaimana diriwayatkan Imam Bukhari dan Muslim, “Engkau akan bersama dengan siapa yang engkau cintai.”

Selepas mendengar hadits ini, kemudian mengatakan bahwa ia tidak akan menukarnya dengan bumi berisi sepenuh emas sekalipun, anak Malik bin Nadhr ini melanjutkan tafsirannya, “Karena ibadahku, shalatku, puasaku, sedekahku, manasikku, jihadku, dan seluruh amalku,” katanya, “tidak ada seujung kuku jika dibandingkan dengan amalan Abu Bakar ash-Shidiq dan Umar bin Khaththab,” apalagi, lanjutnya, “jika dibandingkan dengan amalan Rasulullah Saw.”

Tanpa berpanjang kalam, mari berkaca dalam-dalam. Sungguh mustahil bagi kita untuk menyaingi mereka dalam kualitas dan kuantitas amal. Amat tak mungkin bagi diri-meski telah lakukan semuanya-untuk bersanding dengan mereka.

Tetapi, selayak gembiranya Anas bin Malik, kita juga amat patut bergembira. Sebab, kata Anas lagi, “Tetapi sungguh,” ujarnya mantap, “Aku sangat mencintai mereka.”

Cinta. Itulah kuncinya. Mencintai mereka dengan tulus dan mengerahkan seluruh kemampuan untuk meneladaninya. Semoga Allah Swt mengumpulkan kita dengan mereka; orang-orang mulia yang kita cintai: Rasulullah Saw dan sahabat-sahabatnya.

Sumber: http://kisahikmah.com

 

This entry was posted by admin on Friday, March 27th, 2015 at 8:40 am and is filed under islam . You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0 feed. You can leave a response, or trackback from your own site.

Leave a Reply

infopaytren.com
Categories