Nasionalisme Itu Disini

Besok adalah hari kemerdekaan Negara yang tercinta ini. Negara Republik Indonesia. Ternyata sudah berumur 70 tahun, cukup tua untuk ukuran umur manusia. Tapi mungkin tidak untuk ukuran sebuah negara. Jika manusia pada umur 70 tahun dihormati dengan segala gelar, jasa, kemandirian, kehormatan  yang melekat padanya dirinya, apakah demikian juga hal nya dengan negara ini?.

Jika mempertanyakan   jasa, kemandirian, kehormatan   suatu negara adalah hal yang terlalu jauh dan berat, dan membutuhkan kapasitas seorang pakar yang hebat, kiranya mari kita berkomentar tentang hal yang ringan, misalnya tentang manifestasi nilai nasionalisme.  Nilai nasionalisme yang dimanifestasikan dalam kegiatan sesaat, pada puncak perayaan kelahiran bangsa ini,  dari mengibarkan bendera di ujung gunung tertinggi, mengendarai moge di jalanan tol yang bukan tol, hingga lomba karaoke tingkat RT hingga larut malam, yang dianggap sebagai bentuk ungkapan nasionalisme.

Apa yang didapat dari menancapkan bendera di ujung gunung tertinggi, mengendarai moge di jalanan tol yang bukan tol, lomba karaoke hingga larut malam, selain hanya, kebanggaan semu, kesombongan yang nyata dan Nasionalisme yang salah kaprah? Alih alih membuang-buang waktu, energy, uang dan mengganggu sebagian banyak orang lainnya yang masih memiliki rasionalitas berpikir.

Harry Rubenstein, seorang kurator dari Amerika, mengatakan bahwa perayaan Hari Kemerdekaan adalah suatu bentuk idealisme dari  cita-cita demokrasi, kebebasan dan kebahagiaan bagi siapa saja yang percaya akan perkara”semua manusia diciptakan sama.” Disamping hari untuk mengingat dan menghormati orang-orang pertama yang membuat pengorbanan bagi  sebuah negara.

Nasionalisme itu perlu dan harga mati. Nasionalisme itu ada disini (dihati). Cukuplah tancapkan saja bendera merah putih di pintu rumah Anda, walaupun lusuh, dengan tiang yang tidak begitu tinggi. Sempatkan menghormatinya beberapa detik di pagi hari kemerdkaan, sambil mengingat jasa-jasa para pendahulu negeri ini yang berjuang dengan darah, pikiran dan airmata mereka, lalu doakan mereka, doakan negeri ini.

This entry was posted by admin on Sunday, August 16th, 2015 at 8:51 pm and is filed under persepsi . You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0 feed. You can leave a response, or trackback from your own site.

Leave a Reply

infopaytren.com
Categories