Data dan Hilangnya satu Kementerian

Pada suatu waktu, ketika awal-awal kementerian kehutanan dan kementerian lingkungan hidup disatukan menjadi kementerian lingkungan hidup dan kehutanan, seorang dosen master bertanya kepada mahasiswa kelas malamnya ”mengapa kementerian ini digabung?” Sang anak-anak didiknya, yang notabenenya banyak bekerja di salah satu kementerian bersangkutan menjawab “tidak tahu”. Dan jawaban itulah yang umum keluar dari setiap orang, ketika ditanya hal yang sama, terutama orang yang ditanya adalah yang berkepentingan atau berkaitan dengan kedua kementerian tersebut.

Mengapa kementerian ini digabung? Mengapa namanya-yang bagi sebagian orang- tidak mencerminkan dan sesuai dengan besarnya fungsi salah satu kementerianya? Anda sah-sah saja menjawab asal-asalan karena mungkin Anda tidak terkait langsung dengan subyek atau obyek pertanyaan. Seperti kedengaran asal-asalanya seorang pejabat setingkat esselon dua di tempat saya bekerja memberikan jawabanya, “anggap saja mereka salah ketik”.

Rasanya sulit untuk percaya jika mereka, tim penyusun kabinet periode ini (2014-2019), dalam hal ini tim transisi, yang diketuai oleh Sdri Rini Soemarno, asal-asalan melakukan pengabungan kementerian ini. Mereka pasti punya setidaknya satu landasan atas kebijakan yang dibuat. Karena mereka yang ada disana bukan “orang-orang sembarangan”. Masalahnya bisakah kita, atau Anda setidaknya menebak dasar apa dibalik itu? Sekali lagi silakan berspekulasi. Saya punya satu teori tentang hal ini, bukan berkaitan dengan sang presiden, bukan juga tendensius, yaitu masalah “data”.

Data menggambarkan sebuah representasi fakta yang tersusun secara terstruktur. Selain deskripsi dari sebuah fakta, data dapat pula merepresentasikan suatu objek dan kejadian (Wawan dan Munir, 2006). Dan data jika diolah akan menghasilkan suatu informasi yang sangat berguna dan penting, seperti yang dikatakan oleh Wawan dan Munir selanjutnya,  bahwa “Informasi merupakan hasil dari pengolahan data dalam suatu bentuk yang menggambarkan suatu kejadian-kejadian (event) yang nyata (fact) dengan lebih berguna dan lebih berarti. 

Data dan informasi seringkali dijadikan dasar oleh seseorang dalam membuat keputusan. Apalagi dalam membuat keputusan penting, dengan keterbatasan pengetahuan si pembuat keputusan terhadap persoalan yang sedang dihadapi, data dan informasi menjadi hal yang paling membantu sebagai senjata pamungkas.

Bukannya Saya tidak punya dasar atas argumen tentang masalah data ini. Setidaknya ada beberapa mahasiswa Master dan Doctor yang saya kenal, pernah mengeluhkan betapa terbatasnya data yang ada di salah satu kementerian ini. Dan betapa masih segarnya di ingatan saya, ketika beberapa tahun lalu, terkait kebijakan moratorium ekspor rotan, apakah akan dilanjutkan atau dihentikan, membutuhkan data untuk mendukung kebijakannya, kementerian ini tidak berdaya untuk menyediakannya. Mengapa masalah data ini dianggap belum begitu penting?

Jadi apakah Anda setuju dengan kesimpulan, bahwa boleh jadi ketika mereka (pembuat kebijakan penggabungan kementerian ini) tidak menemukan data dan informasi untuk mengetahui betapa pentingnya eksistensi kementerian ini, lalu mereka jadi “salah” dalam membuat kebijakan?.

Dan pertanyaan terakhirnya, siapakah yang disalahkan?

 

Data pendukung:

Wawan. dan Munir. (2006). Pengantar Teknologi Informasi: Sistem Informasi. Bandung: Universitas Pendidikan Indonesia.

 

 

Efek Kemalasan Sosial

Ketika dua orang atau lebih melakukan pekerjaan bersama, masing-masing mereka tidak akan mengeluarkan kemampuan terbaik mereka sama dengan  saat ketika mereka melakukannya sendiri. Seorang insiyur Perancis, Maximilian Ringelmann telah membuktikannya melalui penelitiannya terhadap dua ekor kuda. Begitulah dikutip dari buku “The art of thinking clearly” karangan Rolf Dobelli.

Penelitian sang insiyur terhadap kuda tadi dilanjutkan kepada manusia. Ketika seseorang diberikan tugas untuk mengerjakan sendiri, dia akan mengeluarkan kemampuan terbaiknya hingga 100 persen. Lalu ketika tugas tersebut dikerjakan oleh dua orang, mereka hanya mengeluarkan kemampuan 93 persen dari kekuatan individunya. Begitu juga ketika satu pekerjaan dilakukan bertiga, masing-masing mereka hanya mengeluarkan kemampuan 85 persen. Mengapa demikian? Sains menyebut hal demikian dengan efek kemalasan sosial. Efek ini terjadi ketika usaha individu tidak kelihatan langsung dan bercampur dalam kelompok.

Suatu ketika, di satu sesi kelas kuliah Master kami, seorang Doktor, dosen Manajemen, melontarkan pertanyaan tentang hal yang hampir sama kepada kami. “sebagai Pegawai, berapa persen kah kemampuan terbaik yang kalian keluarkan di tempat kerja,?” Tanya nya. Dan dengan setengah menebak, dia pun menjawab pertanyaannya sendiri, seolah-olah mengerti akan kebenaran tentang kami. “paling dua puluh persen”, tawarnya. Lalu aku pun dengan enteng, tanpa beban, mengatakan bahwa dia salah. Yang benar mungkin hanya 10 persen. Dia tertawa terbahak-bahak.

Lalu apakah ini karena efek kemalasan sosial ? bisa iya, bisa tidak.

Dalam teori kemalasan sosial, hal ini terlihat masuk akal. Karena, mengapa Anda harus memberikan kemampuan terbaik Anda jika dengan hanya mengeluarkan energi atau kemampuan setengahnya saja suatu pekerjaan bisa diselesaikan secara bersama-sama?. Mengapa Anda harus melakukan suatu tugas yang ringan, dengan mengeluarkan kemampuan terbaik Anda jika bayarannya rendah? Mengapa harus serius, jika masa depan tidak ada disana? (dua pertanyaan terakhir adalah tambahan dari saya).

Apakah anda merasakan hal tersebut di tempat Anda bekerja? Hal, dimana Anda tidak merasa mengeluarkan kemampuan terbaik anda.  Hal, dimana pekerjaan yang Anda kerjakan terlalu mudah buat anda. Hal, dimana Anda merasa ingin pekerjaan yang lebih menantang. Dan mengapa terjadi demikian? Sehingga pada titik paling ekstrim di lamunan Anda, Anda merasa tidak layak berada ditempat sekarang.

Apakah Anda berada di tempat dan bisnis yang salah?. Ataukah ini hanya efek kemalasan sosial belaka. Anda yang tau jawabannya.

 

Empat Akibat Buruk Harta Haram  

Empat akibat buruk harta haram terhadap penerimaan ibadah seorang muslim.

(1) Sedekahnya tertolak. “Siapa mengumpulkan harta haram lalu mensedekahkannya, tidak ada pahala, dan dosa untuknya” – (HR Ibnu Huzaimah)

(2) Shalatnya tidak diterima. “Siapa membeli pakaian dengan harga 10 dirham dan 1 dirham di antaranya dari uang haram, maka Allah tidak akan menerima shalatnya selama pakaian itu dikenakannya” – (HR Ahmad)

(3) Hajinya sia-sia. “Jika seseorang keluar untuk melakukan haji dengan nafkah haram, lalu dia mengendarai tunggangan dan mengatakan, ‘Labbaik, Allaahumma labbaik!’ Maka, yang berada di langit menyeru, “Tidak labbaik dan engkau tidak memperoleh kebahagiaan! Bekalmu haram, kendaraan haram dan hajimu mendatangkan dosa lagi tidak diterima” – (HR Thabrani)

(4) Silaturahimnya tidak berpahala. “Siapa mendapatkan harta dari dosa, lalu dengannya dia bersilaturahim atau bersedekah atau berinfak di jalan Allah, maka Allah akan menghimpun seluruhnya, lalu Dia melemparkannya ke dalam neraka”. Nabi saw. pun bersabda, “Sebaik-baik agamamu adalah al-wara’ (berhati-hati)” – (HR Abu Dawud)

اللَّهُمَّ اكْفِنِى بِحَلاَلِكَ عَنْ حَرَامِكَ وَأَغْنِنِى بِفَضْلِكَ عَمَّنْ سِوَاكَ

Allahummak-finii bi halaalika ‘an haroomik, wa aghniniy bi fadhlika ‘amman siwaak. [Ya Allah, cukupkanlah aku dengan yang halal dari-Mu dan jauhkanlah aku dari yang Engkau haramkan. Cukupkanlah aku dengan karunia-Mu dan jauhkan dari bergantung pada selain-Mu]. (HR. Tirmidzi no. 3563 dan Ahmad 1: 153. Kata Tirmidzi

Sumber : http://www.smstauhiid.com

3 Resep Pribadi Unggul  

 Bisa Melakukan Percepatan diri.

Orang yang unggul memiliki  waktu sama tapi isi berbeda. Seperti dalam waktu yang bersamaan. ada yang memanfaatkan waktu untuk main, ada yang tidur, ada juga yang sedang beribadah.
contoh lain ketika sepertiga malam terakhir, ada yang bergadang, ada yang tidur pulas, ada juga yang tahajud dan tafakur. Waktunya sama, tapi isi beda.

Semua orang memiliki jatah waktu yang sama 24 jam sehari. Jadi masalahnya bukan waktu tapi siapa yang bisa lebih pintar dalam mengisi waktunya.

Kualitas keislaman seseorang bisa dilihat dari kemampuannya menjauhi perbuatan dan perkataan yang tidak ada manfaat / sia-sia.

 

Bisa Berhasil Memasuki Sistem yang Unggul.

Bergaul dengan penjual minyak wangi, akan ikut harum. bergaul dengan pandai besi akan bau bakaran, bergaul dengan ahli Sholat Tahajud akan terbawa ikut sholat tahajud.

Ibarat naik mobil, tergantung dengan mobil yang ia masuki, ikut dalam satu mobil bila mobilnya pelan, maka akan ikut pelan. bila ikut mobil yang cepat, maka akan kebawa cepat.

Makanya masuk dalam lingkungan sitem yang unggul, kita terbawa unggul.

 

Memiliki Hati yang Bersih (Qolbun Salim).

Orang yang berhati kotor akan kontra produktif, untuk sombong saja bisa cape, untuk riya, ingin dipuji orang itu makan waktu, pikiran dan biaya.

Tapi bagi orang yang berhati bersih, tidak ada waktu untuk riya, sombong, dengki kepada karunia yang diberikan Allah kepada orang lain.

maka orang yang berhati bersih, akan cenderung lebih cepat mendapatkan yang terbaik karena Allah lebih suka kepadanya, dan dia benar-benar efektif menggunakan potensinya.

 

Sumber: www.smstauhiid.com

Maukah Kalian Masuk Surga Firdaus?

Kalian mengetahui (bahwa) kalian semua mengharapkan jalan ke surga Firdaus. Atau kalian tidak mengarapkan surga Fir’daus al A’la? Kalian semua tentu ingin mengetahui siapa penghuni surga Firdaus, apakah mereka itu dari kalangan para ulama’, atau para da’I atau…. Mungkinkah kalian menjadi penghuni surga Firdaus?

Jika Rasulullah telah bersabda kepada kalian, “Jika kalian meminta kepada Allah maka mintalah surga Firdaus yang paling tinggi” maka maknanya kalian bisa masuk surga Firdaus. Baik, apa saja sifat (calon penghuni surge Firdaus) tersebut? Sifat-sifat (mereka) telah disebutkan dalam surat al Mu’minun. Ada tujuh (7) sifat:

Sifat pertama:

قَدْ أَفْلَحَ الْمُؤْمِنُونَ

Sesungguhnya beruntunglah orang-orang yang beriman, (QS Al Mu’minun: 1)

Sifat Kedua :

الَّذِينَ هُمْ فِي صَلَاتِهِمْ خَاشِعُونَ

(Yaitu) orang-orang yang khusyu’ dalam sholatnya, (QS Al Mu’minun: 2)

Dia mengetahui sedang berbicara dengan Allah, memikirkan apa yang dibaca di dalam sholatnya, menunaikan sholat sesuai dengan apa yang dicontohkan Nabi shollallahu ‘alahi wassallam. Bukan mereka yang jika mengerjakan sholat lalu memikirkan apa yang dikatakan si Fulan, apa yang dikerjakan saudaraku, apa yang dikerjakan anakku, apa yang dikerjakan bapakku. Tidak, (mereka) memikirkan sedang berbicara dengan Allahjalla wa ‘ala. Itulah orang-orang yang khusyu’ dalam sholatnya.

Sifat ketiga:

وَالَّذِينَ هُمْ عَنِ اللَّغْوِ مُعْرِضُونَ

Dan orang-orang yang menjauhkan diri dari (perbuatan dan perkataan) yang tiada berguna, (QS Al Mu’minun: 3)

Apa itu laghwu? Yaitu sesuatu yang tidak ada faedahnya baik berupa perkataan maupun perbuatan. Jika dia duduk dimajelis yang membicarakan sesuatu yang tidak bermanfaat baik dalam perkara dunia maupun akhirat maka ia berusaha untuk menganti pembicaraan yang bermanfaat. Karena dia dari perkara yang sia-sia berpaling. Ini lebih sulit dari yang sebelumnya. Sifat yang sebelumnya (yaitu khusyuk dalam sholat) sulit, (buktinya) kalian banyak berfikir dalam sholat. (Sifat) yang berikutnya ini lebih sulit, (yaitu sifat) menjauhkan diri dari (perbuatan dan perkataan) yang tiada berguna‎.

 

Sifat keempat:

وَالَّذِينَ هُمْ لِلزَّكَاةِ فَاعِلُونَ

Dan orang-orang yang menunaikan zakat, (QS Al Mu’minun: 4)

Manusia mencintai harta, sehingga zakat sulit (bagi mereka).

 

Sifat kelima:

وَالَّذِينَ هُمْ لِفُرُوجِهِمْ حَافِظُونَ

Dan orang-orang yang menjaga kemaluannya, (QS Al Mu’minun: 5)

Walau dikatakan hal tersebut nikmat, dikatakan banyak wanita cantik. Meskipun demikian dia menjaga kemaluannya. “Kecuali terhadap isteri-isteri mereka atau budak yang mereka miliki ; maka sesungguhnya mereka dalam hal ini tiada tercela. Barangsiapa mencari yang di balik itu maka mereka itulah orang-orang yang melampaui batas.” (QS Al Mu’minun: 6-7)

Sifat keenam :

وَالَّذِينَ هُمْ لِأَمَانَاتِهِمْ وَعَهْدِهِمْ رَاعُونَ

Dan orang-orang yang memelihara amanat-amanat (yang dipikulnya) dan janjinya. (QS Al Mu’minun: 8)

Tidak mengakhirkan pekerjaan. Tidak mengurangi  tugas dan pekerjaan yang telah diwajibkan atas kalian. Ini adalah amanah dan janji. Janjimu dengan pemerintah supaya kamu menepatinya. Jika engkau masuk didalamnya maka ada keuntungan, ada (juga) perjanjian dan syarat-syarat. Jika engkau mengambilnya berarti engkau mampu, maka engkau harus menunaikan amanat tersebut dan perjanjian-perjanjiannya supaya kalian bisa menjadi penghuni surga Firdaus yang paling tinggi.

 

Sifat ketujuh:

وَالَّذِينَ هُمْ عَلَى صَلَوَاتِهِمْ يُحَافِظُونَ

Dan orang-orang yang memelihara sholatnya. (QS Al Mu’minun: 9)

Maka dengan demikian ada tujuh sifat. Kalian ingin masuk surga Firdaus yang paling tinggi? Itu hak kalian dengan syarat kamu mengerjakan amal-amal tersebut: beriman, khusyuk dalam sholat, berpaling dari yang sia-sia, menunaikan zakat, menjaga kemaluan, menjaga amanat dan janji, dan menjaga sholat.

Saya berharap Allah menjadikan kita golongan tersebut. Saya berharap Allah mengangkat derajat kita di SurgaNya. Saya memohon kepada Allah agar memperbaiki keadaan kaum muslimin dan mengembalikan mereka kepada agamanya dengan sebaik-baik pengembalian.

penulis : Syaikh Dr. Sa’ad Asy Syitsry

sumber : www.ukhuwahislamiah.com

 

REBUTAN HAK ASUH IBU

Di salah 1 pengadilan Qasim, Kerajaan Saudi Arabia, berdiri Hizan al Fuhaidi dg air mata yg bercucuran shg membasahi janggutnya,,!! Knp? Krn ia kalah terhadap perseteruannya dg saudara kandungnya!!

Tentang apakah perseteruannya dg saudaranay?? Ttng tanah kah?? atau warisan yg mereka saling perebutkan??

Bkn krn itu semua!! Ia kalah terhdp saudaranya terkait pemeliharaan ibunya yg sdh tua renta & bahkan hanya memakai sebuah cincin timah di jarinya yg tlh keriput,,

Seumur hidupnya, beliau tinggal dg Hizan yg selama ini menjaganya,,

Tatkala beliau telah manula, datanglah adiknya yg tinggal di kota lain, utk mengambil ibunya agar tinggal bersamanya, dng alasan, fasilitas kesehatan dll di kota jauh lbh lengkap drpd di desa,,

Namun Hizan menaolak dg alasan, selama ini ia mampu utk menjaga ibunya. Perseteruan ini tdk berhenti sampai di sini, hingga berlanjut ke pengadilan!!

Sidang demi sidang dilalui,, hingga sang hakim pun meminta agar sang ibu dihadirkan di majelis..

Kedua bersaudara ini membopong ibunya yg sdh tua renta yg beratnya sdh tdk sampai 40 Kg!!

Sang Hakim bertanya kpdnya, siapa yg lbh berhak tinggal bersamanya. Sang ibu memahami pertanyaan sang hakim, ia pun mnjawab , sambil menunjuk ke Hizan, “Ini mata kananku!”

Kemudian menunjuk ke adiknya sambil berkata, “Ini mata kiriku!!

Sang Hakim brpikir sejenak kmudian memutuskan hak kpd adik Hizan, brdasar kemaslahatan2 bagi si ibu!!

Betapa mulia air mata yg dikucurkan oleh Hizan!!

Air mata penyesalan krn tdk bisa memelihara ibunya tatkala beliau tlh menginjak usia lanjutnya!!

Dan, betapa trhormat dan agungnya sang ibu!! yg diperebutkan oleh anak2nya hingga seperti ini,,!!

Andaikata kita bisa memahami, bagaimana sang ibu mendidik kedua putranya hingga ia mnjdi ratu dan mutiara termahal bagi anak2nya!!

Ini adalah pelajaran mahal tentang berbakti,, tatkala durhaka sudah menjadi budaya,,

“Ya ALLAH, Yaa Robb kami!! Anugerahkan kepada kami keridhoan ibu kami dan berilah kami kekuatan agar selalu bisa berbakti kepadanya!!” aamiin

Sumber: https://www.facebook.com/Ary.Ginanjar.Agustian

 

KESAKSIAN SEORANG YANG MATI SURI

” Kisah nyata ini sungguh dapat di jadikan pelajaran bagi Kita yang masih hidup “

Begitulah judul kisah nyata kali ini, dia adalah : Ella Az-Zahra

Aslina adalah warga pekan baru yang mati suri 24
Agustus 2006 lalu. Gadis berusia sekitar 25 tahun itu
memberikan kesaksian saat nyawanya dicabut dan apa
yang disaksikan ruhnya saat mati suri.
Sebelum Aslina memberi kesaksian, pamannya Rustam
Effendi memberikan penjelasan pembuka. Aslina berasal
dari keluarga sederhana, ia telah yatim. Sejak kecil
cobaan telah datang pada dirinya. Pada umur tujuh
tahun tubuhnya terbakar api sehingga harus menjalani
dua kali operasi. Menjelang usia SMA ia termakan
racun. Tersebab itu ia menderita selama tiga tahun.
Pada umur 20 tahun ia terkena gondok (hipertiroid) .
Gondok tersebut menyebabkan beberapa kerusakan pada jantung
dan matanya. Karena penyakit gondok itu maka Jumat, 24
Agustus 2006 Aslina menjalani check-up atas gondoknya
di Rumah Sakit di jakarta. Setelah itu, Hasil pemeriksaan menyatakan penyakitnya di ambang batas sehingga belum bisa
dioperasi.. ”Kalau dioperasi maka akan terjadi pendarahan,’ ‘
jelas Rustam. Oleh karena itu Aslina hanya diberi
obat. Namun kondisinya tetap lemah. Malamnya Aslina
gelisah luar biasa, dan terpaksa pamannya membawa Aslina
kembali ke jakarta sekitar pukul 12 malam itu. Ia
dimasukkan ke unit gawat darurat (UGD), saat itu detak
jantungnya dan napasnya sesak. Lalu ia dibawa ke luar
UGD masuk ke ruang perawatan. ”Aslina seperti orang
ombak (menjelang sakratulmaut). Lalu saya ajarkan
kalimat thoyyibah dan syahadat. Setelah itu dalam
pandangan saya Aslina menghembuskan nafas terakhir, ” ungkapnya. Usai Rustam memberi pengantar, lalu Aslina
memberikan kesaksiaanya.

”Mati adalah pasti. Kita ini calon-calon mayat, calon
penghuni kubur,” begitu ia mengawali kesaksiaanya
setelah meminta seluruh hadirin yang memenuhi Grand
Ball Room Hotel Mutiara Merdeka Pekanbaru tersebut
membacakan shalawat untuk Nabi Muhammad SAW. Tak lupa
ia juga menasehati jamaah untuk memantapkan iman, amal
dan ketakwaan sebelum mati datang. ”Saya telah
merasakan mati,” ujar anak yatim itu. Hadirin terpaku mendengar kesaksian itu. Sungguh, lanjutya, terlalu sakit mati itu.
Diceritakan, rasa sakit ketika nyawa dicabut itu
seperti sakitnya kulit hewan ditarik dari daging,
dikoyak. Bahkan lebih sakit lagi. ”Terasa malaikat
mencabut (nyawa) dari kaki kanan saya,”
tambahnya. Di saat itu ia sempat diajarkan oleh
pamannya kalimat thoyibah. ”Saat di ujung napas, saya
berzikir,” ujarnya. ”Sungguh sakitnya, Pak, Bu,”
ulangnya di hadapan lebih dari 300 alumni ESQ
Pekanbaru. Diungkapkan, ketika ruhnya telah tercabut dari jasad,
ia menyaksikan di sekelilingnya ada dokter, pamannya
dan ia juga melihat jasadnya yang terbujur. Setelah
itu datang dua malaikat serba putih mengucapkan
Assalammualaikum kepada ruh Aslina. ”Malaikat itu
besar, kalau memanggil, jantung rasanya mau copot,
gemetar,” ujar Aslina mencerita pengalaman matinya.
Lalu malaikat itu bertanya: ‘’siapa Tuhanmu, apa
agamamu, dimana kiblatmu dan siapa nama orangtuamu.. “
Ruh Aslina menjawab semua pertanyaan itu dengan
lancar. Lalu ia dibawa ke alam barzah. ”Tak ada teman
kecuali amal,” tambah Aslina yang Ahad malam itu
berpakaian serba hijau. Seperti pengakuan pamannya, Aslina bukan seorang pendakwah, tapi malam itu ia tampil memberikan
kesaksian bagaikan seorang muballighah. Di alam
barzah ia melihat seseorang ditemani oleh sosok yang
mukanya berkudis,badan berbulu dan mengeluarkan bau
busuk. Mungkin sosok itulah adalah amal buruk dari
orang tersebut. Kemudian Aslina melanjutkan. ”Bapak, Ibu, ingatlah mati,” sekali lagi ia mengajak hadirin untuk bertaubat dan
beramal sebelum ajal menjemput. Di alam barzah, ia
melanjutkan kesaksiannya, ruh Aslina dipimpin oleh
dua orang malaikat. Saat itu ia ingin sekali berjumpa
dengan ayahnya. Lalu ia memanggil malaikat itu dengan
”Ayah”. ”Wahai ayah bisakah saya bertemu dengan
ayah saya,” tanyanya. Lalu muncullah satu sosok.
Ruh Aslina tak mengenal sosok yang berusia antara
17-20 tahun itu. Sebab ayahnya meninggal saat berusia
65 tahun. Ternyata memang benar, sosok muda itu adalah
ayahnya. Ruh Aslina mengucapkan salam ke ayahnya dan
berkata: ”Wahai ayah, janji saya telah sampai.”
Mendengar itu ayah saya saya menangis. Lalu ayahnya
berkata kepada Aslina. ”Pulanglah ke rumah, kasihan
adik-adikmu. ” ruh Aslina pun menjawab. ”Saya tak
bisa pulang, karena janji telah sampai”. Usai menceritakan dialog itu, Aslina mengingatkan kembali kepada hadirin bahwa alam barzah dan akhirat itu benar-benar ada. ”Alam barzah, akhirat, surga dan neraka itu betul ada. Akhirat adalah kekal,” ujarnya
bak seorang pendakwah.

Setelah dialog antara ruh Aslina dan ayahnya. Ayahnya
tersebut menunduk. Lalu dua malaikat memimpinnya
kembali, ia bertemu dengan perempuan yang beramal
shaleh yang mukanya bercahaya dan wangi. Lalu ruh
Aslina dibawa kursi yang empuk dan didudukkan di kursi
tersebut, disebelahnya terdapat seorang perempuan yang
menutup aurat, wajahnya cantik. Ruh Aslina bertanya
kepada perempuan itu. ”Siapa kamu?” lalu perempuan
itu menjawab.”Akula h (amal) kamu.”
Selanjutnya ia dibawa bersama dua malaikat dan amalnya
berjalan menelurusi lorong waktu melihat penderitaan
manusia yang disiksa. Di sana ia melihat seorang
laki-laki yang memikul besi yang sangat berat,
tangannya dirantai ke bahu, pakaiannya koyak-koyak dan
baunya menjijikkan. Ruh Aslina bertanya kepada
amalnya. ”Siapa manusia ini?” Amal Aslina menjawab
orang tersebut ketika hidupnya suka membunuh orang.
Lalu dilihatnya orang yang yang kulit dan dagingnya
lepas. Ruh Aslina bertanya lagi ke amalnya tentang
orang tersebut. Amalnya mengatakan bahwa manusia
tersebut tidak pernah shalat. Selanjutnya tampak pula
oleh ruh Aslina manusia yang dihujamkan besi ke
tubuhnya. Ternyata orang itu adalah manusia yang suka
berzina. Tampak juga orang saling bunuh, manusia itu
ketika hidup suka bertengkar dan mengancam orang lain.
Dilihatkan juga pada ruh Aslina, orang yang ditusuk
dengan 80 tusukan, setiap tusukan terdapat 80 mata
pisau yang tembus ke dadanya, lalu berlumuran darah,
orang tersebut menjerit dan tidak ada yang
menolongnya. Ruh Aslina bertanya pada amalnya. Dan
dijawab orang tersebut adalah orang juga suka
membunuh. Ada pula orang yang dihempaskan ke tanah
lalu dibunuh. Orang tersebut adalah anak yang durhaka
dan tidak mau memelihara orang tuanya ketika di dunia.
Perjalanan menelusuri lorong waktu terus berlanjut.
Sampailah ruh Aslina di malam yang gelap, kelam dan
sangat pekat sehingga dua malaikat dan amalnya yang
ada disisinya tak tampak. Tiba-tiba muncul suara orang
mengucap : Subhanallah, Alhamdulillah dan Allahu Akbar.
Tiba-tiba ada yang mengalungkan sesuatu di lehernya.
Kalungan itu ternyata tasbih yang memiliki biji 99 butir.
Perjalanan berlanjut. Ia nampak tepak tembaga yang
sisi-sisinya mengeluarkan cahaya, di belakang tepak
itu terdapat gambar kakbah. Di dalam tepak terdapat
batangan emas. Ruh Aslina bertanya pada amalnya
tentang tepak itu. Amalnya menjawab tepak tersebut
adalah husnul khatimah. (Husnul khatimah secara
literlek berarti akhir yang baik. Yakni keadaan dimana
manusia pada akhir hayatnya dalam keadaan (berbuat)
baik,red). Selanjutnya ruh Aslina mendengarkan adzan seperti adzan di Mekkah. Ia pun mengatakan kepada amalnya.”Saya
mau shalat.” Lalu dua malaikat yang memimpinnya
melepaskan tangan ruh Aslina. ”Saya pun bertayamum,
saya shalat seperti orang-orang di dunia shalat,”
ungkap Aslina. Selanjutnya ia kembali dipimpin untuk
melihat Masjid Nabawi. Lalu diperlihatkan pula kepada
ruh Aslina, makam Nabi Muhammad SAW. Dimakam tersebut
batangan-batang an emas di dalam tepak ”husnul
khatimah” itu mengeluarkan cahaya terang. Berikutnya
ia melihat cahaya seperti matahari tapi agak kecil.
Cahaya itu pun bicara kepada ruh Aslina. ”Tolong kau
sampaikan kepada umat, untuk bersujud di hadapan
Allah.” Selanjutnya ruh Aslina menyaksikan miliaran manusia
dari berbagai abad berkumpul di satu lapangan yang
sangat luas. Ruh Aslina hanya berjarak sekitar lima
meter dari kumpulan manusia itu. Kumpulan manusia itu
berkata. ”Cepatlah kiamat, aku tak tahan lagi di sini
Ya Allah.” Manusia-manusia itu juga memohon.”Tolong
kembalikan aku ke dunia, aku mau beramal.”
Begitulah di antara cerita Aslina terhadap apa yang
dilihat ruhnya saat ia mati suri. Dalam kesaksiaannya
ia senantiasa mengajak hadirin yang datang pada
pertemuan alumni ESQ itu untuk bertaubat dan beramal
shaleh serta tidak melanggar aturan Allah.
”Apa yang disampaikan Aslina, mungkin bukti yang
ditunjukkan Allah kepada kita semua, ”
ujarnya.

Menanggapi kesaksian Aslina yang melihat orang-orang
berteriak ingin dikembalikan ke dunia dan ingin
beramal serta penelitian Raymond yang menyebutkan
”aku ingin agar aku dapat kembali dan membatalkan
semuanya,” Legisan mengutip ayat Al-Quran Surat
Al-Mu’muninun (23) ayat 99-100:
Hingga apabila datang kematian kepada seseorang dari
mereka, dia berkata:”Ya, Tuhanku kembalikanlah aku
(ke dunia).”(99) . Agar aku berbuat amal yang saleh
terhadap yang telah aku tinggalkan. Sekali-kali
tidak. Sesungguhnya itu adalah perkataan yang
diucapkannya saja. Dan di hadapan mereka ada dinding
sampai hari mereka dibangkitkan. (100).
Sebagai penguat dalil agar manusia bertaubat,
dikutipkan juga Quran Surat Az-Zumar ayat 39: ”Dan
kembalilah kamu kepada Tuhan-Mu, dan berserah dirilah
kepada-Nya sebelum datang azab kepadamu kemudian kamu
tidak dapat ditolong (lagi).”
Setelah berpidato, aslina mendapatkan tepukan meriah dari penonton tapi bila di facebook, ia dapatkanjempol sekarang.
Semoga pembaca dapat mengambil pelajaran dari
kesaksiaan tersebut.

untuk member : Bagikan cerita ini kepada semua orang, agar
mereka mendapat hikmahnya dari cerita ini. Dan Ternyata
hidup ini hanya sementara, serta hanya amal juga hati
yang bersihlah yang mampu menuntun kita menuju jalan kehadapan Illahi…

jika kisah nyata ini dapat membuat kita lebih sadar dan merenung
jangan lupa bantu share/bagikan ya ke dinding kita 
agar teman-teman dan saudara kita tahu…

Dunia Motivasi dan Inspirasi ( WORLD OF MOTIVATION AND INSPIRATION )

Semoga Bermamfaat…

Sumber: https://www.facebook.com/groups/395300547188863/

 

 

Karakter-Karakter Seorang Inovatif

 

Apakah Anda termasuk orang yang inovatif? Untuk mengetahuinya, Anda bisa melihat hasil beberapa studi dan penelitian berikut, dimana seorang yang inovatif memiliki karakter-karakter sebagai berikut:

  1. Memiliki keinginan untuk menambah pengetahuan dan berusaha untuk mengenali sebab-sebab dari segala sesuatu. Dia memiliki rasa ingin tau yang tinggi, keinginan untuk manambah pengetahuan dan keinginan untuk mengetaui hakekat (substansi) dari segala sesuatu atau kejadian. Dia selalu bertanya “Mengapa”?
  2. Dia selalu menulis setiap ide baru yang mungkin dapat mempermudah pekerjaan, memecahkan masalah atau untuk perkembangan dirinya. Teknik penulisan ide ini bisa di berbagai media yang dia senangi.
  3. Membuka kembali ide-ide yang dia tulis dan berusaha mempelajari ide-ide tersebut. Hal ini dimaksudkan agar ia tidak lupa akan ide-ide yang pernah ia tulis. Agar ide tersebut tidak sia-sia.
  4. Melontarkan ide-ide atau pendapat-pendapatnya kepada orang lain untuk mendapatkan respon terhadap perkembangan idenya.
  5. Berpikir dengan menggunakanberbagai cara (metode). Terutama untuk memecahkan masalah, dia tidak berpikir dengan satu solusi atau satu jenis respon saja, dia berusaha mencari solusi lain yang lebih baik, mencari alternatif-alternatif lain. Dia mendiskusikan dengan orang lain sehingga menemukan solusi terbaik untuk memecahkan masalah.
  6. Seorang yang berjiwa inovatif tidak terpengaruh ejekan, hinaan ataupun rintangan yang berasal dari orang lain. Dia terus saja melakukan percobaan terhadap ide-idenya dan temuan-temuannya dan berusaha untuk mewujudkannya.
  7. Seorang yang inovatif tidak menerima rutinitas atau konvensional yang biasa digunakan. Dia selalu berusaha memberikan yang terbaru. Dia berpikir, memperbaharui dan mencoba untuk mendapatkan solusi dan ide yang terbaik .
  8. Seorang yang inovatif tidak pernah merasa bosan untuk berusaha hingga terwujud tujuannya. Ide-ide yang kreatif dan cemerlang tidak lah datang dengan mudah dan cepat, tapi memerlukan usaha yang serius dan fokus.
  9. Seorang yang inovaif akan selalu memikirkan, mengamati dan mengkaji ulang semua pekerjaan, tugas dan tanggungjawabnya, dimanapun dia berada.

 

Dari 10 kebiasaan manusi sukses tanpa batas. Dr. Ibrahim Hamd Al-Qu’ayyid

 

Menulis itu Gampang – Siapa Bilang?

Tulisan ini copas dari blog nofieiman.com. saya benar-bernar terngiang-ngiang akan pembahasan Anda tentang menulis. Sehingga agar saya selalu ingat tentang isinya, ijinkan saya posting ulang disini. Thanks anyway.

Philip Roth pernah bilang, “Writing isn’t hard work. It’s a nightmare.” Harus diakui bahwa menulis adalah pekerjaan yang monoton, pasif, dan produknya relatif “tidak jelas.” Dibandingkan dengan tukang bangunan misalnya, produk yang dikerjakan seorang penulis hanyalah barisan kata-kata yang menjemukan. Maka tak heran bila diperlukan keuletan dan determinasi yang luar biasa tinggi untuk bisa menjadi seorang penulis yang jempolan.

Menulis sesuatu yang mudah dipahami pembaca juga bukan perkara gampang. If the product looks effortless, there are lots of work went into it. Kalau Anda menemukan satu kalimat atau paragraf yang “enak” dibaca, bisa dipastikan penulisnya menyusun kalimat/paragraf itu dengan susah payah. Mungkin penulisnya sudah membaca dan melakukan riset mendalam. Mungkin penulisnya telah melakukan kontemplasi yang matang. Mungkin penulisnya punya segudang pengalaman di bidang tersebut.

Menulis yang baik butuh pemahaman (reasoning) dan logika berpikir (logic) yang kuat.You can’t teach anyone to write without a basic grasp of logic and without giving them access to the critical thinking skills required for the journey that a good writing demands.Menulis juga butuh pengetahuan mendalam akan kebenaran topik (inherent truth) yang Anda tulis. Kombinasi antara reasoninglogic, dan truth inilah yang akan membuat tulisan Anda lebih berisi. This is a lot of work indeed.

Anda mungkin berpikiran bahwa istilah yang sophisticated menggambarkan tulisan yang berkualitas. Salah besar. Tulisan yang bagus justru tulisan yang menggunakan kalimat sederhana yang pendek, langsung menuju pokok masalah yang ingin disampaikan, menghindari penggunaan jargon asing, dan memanfaatkan penggunaan kata yang tepat—tidak kurang, tidak juga lebih. Using overwhelmed jargon, believe me, will only insult your readers’ intelligence.

Celakanya, pendidikan di Indonesia tidak mengajarkan kita menulis dengan baik. Kita cenderung berputar-putar dalam mengemukakan pendapat. Argumen yang seharusnya bisa ditulis dalam satu kalimat, harus dijabarkan dalam ratusan kata. Tak percaya? Lihatlah pidato politik pejabat kita: 10% isi, 90% kata-kata yang berbusa. Simak acara debat dan talkshow di televisi kita: 60 menit airtime, 15 menit useful content.

Pendidikan kita juga tidak membiasakan bagaimana menyusun argumen dan berpendapat dengan baik. Banyak tulisan mahasiswa saya yang harus “melipir” terlebih dahulu sebelum sampai pada inti permasalahan. Banyak dari mereka yang seolah sungkan menyatakan pendapatnya. Padahal, menulis yang bagus harus didasari satu gagasan pokok yang jelas. Satu saja. Namun gagasan itu harus di-backup dengan riset, data, pengalaman, atau logika yang runtut.

Tantangan lain dalam menulis adalah bagaimana memelihara konsistensi. Tidak mudah untuk menjaga agar ide dan pendapat Anda tetap kongruen satu sama lain—terutama dalam tulisan panjang seperti buku atau laporan tugas akhir. Ketika ada orang lain yang tidak sependapat dengan argumen Anda, how you’re going to defend your views? How to maintain your consistency? Can you provide evidence/example/analogy?

Anggaplah menulis seperti membuat rute perjalanan. Anda hendak berjalan dari Sudirman menuju Pondok Indah. Ada banyak jalan yang bisa Anda lalui. Tapi Anda harus memutuskan satu saja rute yang diambil. Yakinkan pembaca Anda bahwa rute itu adalah pilihan yang terbaik. Kemukakan argumen Anda. Misalnya, rute pilihan Anda terbukti paling cepat dan bebas macet. Pastikan pembaca memperoleh manfaat dari pilihan itu. Tentu orang lain akan bilang rute lain jauh lebih baik. But why should you care? This is your writing, not theirs.

Dan terakhir, yang sering dilupakan, adalah bagaimana menulis dalam bahasa pembaca. Pembaca buku-buku saya misalnya, kebanyakan tidak ingin tahu apa itu perencanaan keuangan. Mereka cuma ingin cepat kaya. Mereka tidak ingin belajar menghitung valuasi. Mereka cuma ingin tahu saham apa yang moncer hari ini. That is how we read, talk, speak, and think. Memahami apa yang ada di balik kepala pembaca Anda akan membuat pembaca lebih respek dan memiliki trust pada apa yang Anda tulis.

Mungkin dalam hati Anda berpikiran, “Wah, betul juga ya. Kok saya sampai nggak kepikiran soal itu sih?” Well, you wouldn’t. 🙂

http://nofieiman.com

”SUNITA WILIAMS” Wanita India Masuk Islam Setelah Dari Bulan

Banyak cara seseorang dihampiri hidayah. Menerima islam setelah mengalami hal-hal yang menyentuh hatinya. Pada tulisan sebelumnya terdapat seorang professor Maurice Bucaille yang lahir di Perancis, menerima islam setelah melakukan pembedahan pada mumi firaun.

Berikut juga ada contoh lainnya yakni seorang wanita india menerima islam setelah melihat langsung bukti kebesaran Alllah. Dia menunggu hingga hal luar biasa terjadi pada dirinya, baru menerima Islam.

Adalah Sunita Williams  Lahir 19 September, 1965 di Euclid, Ohio, tetapi mengklaim Needham, Massachusetts menjadi kota kelahirannya. Menikah dengan Michael J. Williams. tapi mereka tidak memiliki anak,

Informasi dari  berbagai website, blog, forum, dan dalam rantai e-mail / teks SMS massal, bahwa Sunita Williams telah berpindah agama  dari Hindu ke Islam sekembalinya dari bulan. Berikut kutipan yang berhasil penulis kumpulkan dari berbagai website:

Sunita Williams (Wanita India Pertama yang pergi ke luar angkasa untuk beberapa bulan telah kembali) menerima “ISLAM”, Massha Allah, karena ketika mereka di bulan, mereka melihat ke bumi, seluruh BUMI tampak gelap, kecuali dua 2 tempat di BUMI tampak seperti bercahaya. Mereka terkejut melihat hal itu dan mereka mencoba melihatnya dengan bantuan teleskop dan mengetahui bahwa kedua tempat tersebut adalah “MAKKAH” dan “MADINAH” Masha Allah !. Kemudian mereka memutuskan setelah mencapai ke bumi mereka akan menerima “ISLAM”. Jadi bangga Anda sebagai seorang muslim.

Sunita Williams, wanita India pertama yang pergi ke bulan pada tahun 2007  mengatakan bahwa dari bulan, seluruh bumi tampak sangat hitam dan gelap, kecuali dua tempat yang cerah dan bersinar ketika ia melihat melalui teleskop. Tempat-tempat ini adalah MAKKAH & MADINA (Arab Saudi). Dia juga mengatakan, di bulan tidak ada frekuensi, tapi dia masih bisa mendengarkan AZAAN.

 

Sumber:

http://www.webcitation.org/query?url=http://www.therevival.co.uk/forum/general/6426&date=2011-02-27

http://www.jsc.nasa.gov/Bios/htmlbios/williams-s.html

http://www.webcitation.org/query?url=http://mossavi.wordpress.com/2008/12/05/sunita-williams/&date=2011-02-26

http://wikiislam.net/wiki/Sunita_Williams_(Conversion_to_Islam)#Claim